Air merupakan komponen terpenting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi, tempat makhluk hidup berpijak. Tanpa air, tidak mungkin ada kehidupan di alam semesta yang luas ini. Sehingga tak heran jika keluar sebuah ungkapan no water no living, benar-benar ungkapan yang pas bagi kehidupan macam sekarang ini. Air bersih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air minum, memasak, mandi maupun mencuci. Pemenuhan kebutuhan air bersih saat ini sudah mulai berkurang, karena penurunan kualitas maupun kuantitas air di lingkungan. Penurunan kualitas air dapat disebabkan karena pencemaran air. Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran air, menimbulkan banyak masalah besar bagi masyarakat yang mengalami kasus tersebut di sekitar lingkungannya. Dampak langsung dari pencemaran air adalah terjadinya degradasi air di mana-mana, baik itu di air tanah, air sungai, maupun air laut.
Di Kota Probolinggo, sebagian besar masyaraktnya menggunakan air bersih yang di suplai dari sungai yang mengalir di kota ini. Karena di Kota Probolinggo memang terdapat cukup banyak sungai mengalir yang airnya dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari bagi masyarakatnya. Sehingga peran air di sini, memegang andil sangat penting demi ada atau tidaknya keberlangsungan hidup. Namun sayang, sangking bermanfaatnya air bagi kita, ternyata masyarakat juga memanfaatkan air untuk membuang hajat mereka. Bukankah perilaku yang demikian sama saja kita tidak menghargai air yang merupakan komponen ciptaan Tuhan YME untuk digunakan sebaik-baiknya bagi umat manusia. Perilaku yang demikian ini, dewasa ini semakin meningkat pesat bagai pesawat yang semakin meroket ke atas. Karena disamping kesadaran masyarakat yang kurang, faktor pertumbuhan penduduk di perkampungan kumuh juga kian meningkat. Tercatat ada beberapa perkampungan kumuh di Kota Probolinggo yang masyaratnya kurang sadar akan pentingnya air bersih bagi mereka.
Jangan buang air besar sembarangan! Tulisan itulah yang mungkin sering kita lihat di beberapa titik sungai yang ada di Kota Probolinggo. Buang limbah kotoran manusia tersebut memang merupakan suatu budaya turunan yang sulit untuk dilenyapkan. Ternyata bukan hanya manusia, tapi juga hewan seperti sapi yang sedang dimandikan di sungai. Perilaku yang demikian pada akhirnya dapat mencemari air sungai yang merupakan nadi kehidupan masyarakat di Kota Probolinggo. Meskipun sungi di kota kita masih dalam ambang batas pencemaran yang wajar atau belum kritis, namun apakah kita akan menunggu hingga hal itu terjadi dan menimpa masyarakat kita? Padahal perilaku yang demikian dapat kita atasi dengan mendirikan WC umum di sekitar pemukiman. Sehingga budaya buang air besar sembarangan dapat berkurang bahkan akan hilang.
Pentingnya untuk tidak mencemari air sungai dengan limbah buatan manusia itu sendiri dikarenakan, dalam hajat manusia ataupun hewan terdapat suatu koloni mikroba yang kasat mata,yaitu salah satunya Escherichia Coli atau biasa disingkat E Coli. Mungkin E. coli adalah nama bakteri yang paling dikenali oleh orang awam diantara nama-nama bakteri berbahasa Latin lainnya yang rumit-rumit. E Coli sendiri dapat ditemukan dalam usus halus yang berfungsi untuk membusukkan makanan sehingga diproses menjadi tinja. Di sisi medis, bakteri E Coli sering digunakan dalam rekayasa genetika dan biasa digunakan sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. E coli dipilih karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya. Namun dari sekian manfaat yang dapat kita peroleh dari E Coli, ternyata ada juga beberapa E Coli dalam tinja yang bersifat patogen (merugikan) yaitu E Coli jenis O157. E Coli O157 adalah bakteri penyebab penyakit muntaber ( diarrhea) yang acapkali menimbulkan ledakan kasus ( outbreak ) di tanah air kita.
Dewasa ini muntaber yang disebabkan oleh E. coli O157 merupakan salah satu penyakit yang paling banyak mengakibatkan kematian pada anak balita (bawah lima tahun). E. coli yang sudah teridentifikasi ada 173 jenis dan klasifikasinya didasarkan pada polisakarida yang ada pada kapsul sel bakteri ini. Penggolongan ini dinamakan serotype dimana pada E. Coli didapatkan jenis O1 sampai O173. Dengan demikian maka E. Coli O157 yang terkenal ini masuk dalam penggolongan serotype ke 157. Virulensi (keganasan) E. coli O157 ini terletak pada zat racun (toxin) yang diproduksinya yang diberi nama Shiga toxin. Toksin ini mempunyai daya rusak yang sangat kuat pada sel endotel (sel pelapis) organ dalam tubuh kita sehingga menimbulkan pendarahan. Bahkan pada kasus yang terlambat ditangani dapat menimbulkan komplikasi hemolytic uremic syndrome (HUS) yang berakibat pada gagal ginjal (kidney failure).
Sehingga, apabila masyarakat di Kota Probolinggo terus-menerus menyumbang bakteri E Coli ke sungai yang digunakan untuk mandi, mencuci dan untuk diminum, maka itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan. Karena semakin banyak masyarakat melakukan BAB sembarangan (di sungai), maka semakin banyak pula feses yang terbuang di sungai, dan semakin banyak pula E Coli yang akan mengontaminasi air sungai. Tidak heran jika di pemukiman kumuh banyak sekali penderita yang mengeluhkan penyakit diare dan muntaber. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh air yang terkontaminasi oleh bakteri E Coli yang patogen (merugikan). Maka dari itu perlu adanya sosialisasi pemerintah terhadap masyarakat mengenai jangan BAB sembarangan dan dampak negatif yang ditimbulkannya. Disamping tak sedap dipandang mata, feses yang terbawa arus sungai akan mengontaminasi air dengan E Coli sehingga terjadilah pencemaran.
Pencemaran inilah nantinya yang akan menyebabkan degredasi dan kelangkaan air bersih. Kemudian kesehatan masyarakat akan sangat terganggu dengan adanya degredasi yang semacam ini. Karena E Coli bukanlah musuh yang main-main karena bakteri merugikan ini akan banyak memberikan dampak buruk bagi masyarakat yang mengonsumsi air yang tercemar E Coli tersebut. Pengobatan beberapa penyakit yang disebabkan E Coli, seperti muntaber dan diare dapat dilaksanakan dengan pemberian cairan ( RT/Oral Rehydration Therapy) juga diberikan antibiotika. Namun karena seringnya penyalah-gunaan antibiotika ini maka selalu terjadi kekebalan (resistance ) sehingga dikembangkan antibiotika lini kedua, ketiga dan seterusnya. Hal ini tentunya tidak menguntungkan karena selain bertambah mahal harga obat ini juga efek samping ( side effect ) yang ditimbulkan semakin banyak karena ’kuat’nya antibiotik ini. Ada penelitian yang cukup menarik untuk mengatasi bakteri E. coli ini yaitu dengan pemberian bakteri yang ’baik’ Lactobacillus acydophilus yang terbukti dapat membunuh bakteri E. Coli O157 ini. Lactobacillus acydophilus adalah bakteri yang dimasukkan pada susu untuk menghasilkan yogurt. Jadi memang disarankan anda meminum yogurt ini untuk mencegah dan mengobati gangguan pencernaan karena bakteri ini.
Pertempuran melawan E. coli O157 memang tidak pernah ada kata menyerah. Penelitian yang baru dikembangkan dan sangat menjanjikan di dalam mengatasi bakteri patogen ini diberi nama ’pemblokiran’ quorum sensing. Rupanya untuk bisa efektif melakukan penyerangan ke sel tubuh kita E. coli ini harus membentuk koloni dan dengan cara ’keroyokan’ ini dia bisa menghasilkan senjata pamungkasnya seperti toksin dan biofilm (perisai pelindung sel bakteri). Quorum sensing adalah bahasa komunikasi diantara bakteri sehingga mereka bisa saling ”SMS’ berkumpul menjadi banyak dan siap untuk menyerang. Di laboratorium Albert Einstein College of Medicine pada tahun 2008 telah berhasil dikembangkan zat yang dapat memblokir bakteri ini ’berbicara dan mendengar’ satu sama lainnya. Dengan prinsip seperti politik divide et impera (memecah belah) ini maka bakteri ini akan lemah dan dengan mudah dikalahkan oleh sistem pertahanan tubuh sendiri. Sebegitu jauh obat ini telah berhasil melakukan pemblokiran quorum sensing pada kuman Vibrio cholerae (penyebab kolera) dan Escherichia coli O157. Dengan demikian kita tidak harus berpacu menghasilkan antibiotika baru yang akan selalu mengalami resistensi karena sang bakteri pun membuat daya tangkal yang baru.
Namun, jika kita semua dapat berperilaku bijak dengan tidak BAB secara sembarangan, tentunya kita tidak akan mengalami penyakit yang ditimbulkan E Coli. Sehingga kita juga tidak perlu melakukan pengobatan seperti pada paparan di atas. Memang kita sadari bahwa kian lama, air bersih semakin sulit untuk didapatkan. Banyak sekali faktor yang memungkinkan terjadinya kelangkaan terhadap air. Di antaranya karena disebabkan oleh E Coli. Kita sebagai masyarakat yang peduli akan pentingnya kesehatan, ada kalanya memerhatikan secara seksama masalah tersebut. Jangan biarkan terjadinya degredasi air di Kota Probolinggo. Karena beberapa kota lain yang sudah mengalaminya, mengaku mengalami kesulitan dalam memanfaatkan air bersih hingga sekarang ini. Untuk mendapatkannya mereka harus berkorban waktu,tenaga dan uang. Meskipun masalah degredasi air yang disebabkan pencemaran, khususnya E Coli belum terjadi di Probolinggo atau pencemaran di Probolinggo masih dalam batas wajar, namun kita tidak mungkin menunggu dan membiarkan hal ini terjadi serta menimpa anak cucu kita mendatang. Maka dari itu, perlu adanya kesadaran dalam diri kita untuk tidak buang air besar sembarangan. Lagipula buang air besar sembarangan tidak masuk kedalam tata krama budaya luhur bangsa kita,bangsa Indonesia.










1 komentar:
okelah............smoga artikel ini bisa menang dLm lomBa karya tulis sanitasi 2010.......doakan ya...... ;P
Posting Komentar